Kenapa Kita Perlu Fokus pada Diri Sendiri (dan Kenapa Itu Bukan Egois)
Pernah ngga sahabat pembaca merasa lelah karena selalu berusaha ada untuk semua orang?
Kita berusaha menjadi teman yang baik, anak yang berbakti, pasangan yang pengertian, atau rekan kerja yang bisa diandalkan. Kita mencoba memenuhi ekspektasi banyak orang. Tanpa sadar, kita terus memberi, memberi, dan memberi. Terkadang kita terfokus ke pemikiran bahwa kita harus ikhlas dan tidak mengharapkan apapun which is yaaa ngga salah juga sih.
Namun di tengah semua itu, ada satu orang yang sering terlupakan: diri kita sendiri.
Banyak dari kita terbiasa memprioritaskan orang lain. Kita takut mengecewakan mereka. Kita takut dianggap egois jika terlalu memikirkan diri sendiri. Akhirnya kita terus menunda kebutuhan kita sendiri—menunda istirahat, menunda mimpi, bahkan menunda kebahagiaan.
Padahal, fokus pada diri sendiri bukanlah sesuatu yang salah.
Mengapa Kita Sering Lupa pada Diri Sendiri?
Sejak kecil, banyak dari kita bahkan aku sediri diajarkan untuk selalu mendahulukan orang lain terutama dengan saudara, adik, atau kakak. Itu adalah nilai yang baik. Namun terkadang, tanpa kita sadari, hal itu membuat kita mengabaikan diri sendiri terlalu lama.
Kita mulai terbiasa mengatakan “iya” meskipun sebenarnya ingin mengatakan “tidak”. Kita memaksakan diri tetap kuat meskipun sebenarnya sedang lelah. Kita menenangkan orang lain, tetapi lupa menenangkan diri sendiri.
Ada juga tekanan dari lingkungan. Melihat kehidupan orang lain di media sosial, melihat pencapaian orang lain, membuat kita merasa harus selalu melakukan lebih banyak, menjadi lebih baik, dan bergerak lebih cepat.
Di tengah semua itu, kita jarang berhenti sejenak untuk bertanya: “Apa yang sebenarnya aku butuhkan?”
Apa Arti “Fokus on You First”
Fokus pada diri sendiri bukan berarti menjadi egois, ini yang sering kita khawatirkan bahwa orang sekitar akan menganggap kita egois dan sombong.
Ini bukan tentang mengabaikan orang lain atau hanya memikirkan diri sendiri. Fokus pada diri sendiri berarti memberi ruang untuk merawat diri, mengenal diri, dan bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri kita.
Artinya kita mulai mendengarkan perasaan kita sendiri. Kita memberi waktu untuk beristirahat ketika tubuh dan pikiran kita lelah. Kita menghargai proses hidup kita tanpa harus terus membandingkannya dengan perjalanan orang lain.
Ketika kita merawat diri kita dengan baik, kita sebenarnya sedang membangun fondasi yang lebih kuat. Dan dari fondasi itu, kita akan lebih mampu hadir dengan tulus untuk orang-orang di sekitar kita.
Karena seseorang yang hatinya penuh akan lebih mudah berbagi dibandingkan seseorang yang terus merasa kosong.
Mulai dari Hal-hal Kecil
Fokus pada diri sendiri tidak selalu berarti membuat perubahan besar dalam hidup. Kadang, semuanya bisa dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari kebiasaan kecil sehari-hari yang justru sering kita abaikan karena dianggap hal yang ngga berarti dan ngga berpengaruh besar dalam hidup kita.
Misalnya kita bisa mulai dengan berhenti membandingkan perjalanan hidup kita dengan orang lain. Setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Apa yang terlihat cepat bagi orang lain belum tentu menjadi jalan yang tepat untuk kita.
Kita juga bisa mulai dengan memberi waktu untuk diri sendiri. Waktu untuk berpikir, menulis, berjalan santai, atau sekadar menikmati momen tanpa merasa harus selalu produktif. Luangkan waktu 30 menit - 1 jam khusus untuk kita habiskan denga diri sendiri, me-time. Ini juga waktu yang bagus untuk refleksi diri.
Belajar mengatakan “tidak” juga merupakan bagian dari fokus pada diri sendiri. Terus terang ini sering jadi hal paling sulit. Perasaan "ngga enak" atau "takut dijauhi" sering jadi pemicu kita untuk meng-iya-kan semuanya, padahal tidak semua hal harus kita lakukan. Tidak semua permintaan harus kita penuhi. Menjaga batasan bukanlah sikap egois—itu adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Selain itu, kita juga bisa mulai berinvestasi pada pengembangan diri. Membaca buku, belajar hal baru, atau melakukan aktivitas yang membuat kita merasa lebih hidup.
Hal-hal kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar dalam jangka panjang.
Sebuah Pengingat untuk Diri Sendiri
Kadang kita terlalu keras pada diri kita sendiri. Kita merasa harus selalu kuat, selalu mampu, dan selalu baik-baik saja.
Padahal tidak apa-apa jika sesekali kita merasa lelah. Tidak apa-apa jika kita butuh waktu untuk berhenti sejenak.
Hidup bukan perlombaan yang harus diselesaikan secepat mungkin. Setiap orang memiliki ritme yang berbeda.
Jadi jika hari ini kamu merasa tertinggal, mungkin kamu hanya sedang berjalan di jalur yang berbeda.
Dan itu tidak apa-apa.
Mungkin salah satu hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk hidup kita adalah berhenti sejenak, menarik napas, dan kembali melihat ke dalam diri kita sendiri.
Mulailah dari sana.
Karena pada akhirnya, ketika kamu belajar fokus pada dirimu sendiri, kamu tidak hanya sedang merawat hidupmu—kamu juga sedang membangun versi dirimu yang lebih kuat, lebih tenang, dan lebih utuh.
Dan dari situlah, banyak hal baik dalam hidup bisa mulai tumbuh. Semoga bermanfaat yaa sahabat pembaca semua, sampai jumpa di coretan lainnya. wasaalamu'alaikum.

Comments
Post a Comment